Jejak Rehlah#1: Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS Meninggikan Fondasi Ka’bah

Kategori : Edukasi, Ditulis pada : 14 September 2026, 12:04:31

Makkah tidak hanya menyimpan bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam. Kisah di balik Ka’bah, kisah panjang tentang ketaatan, pengorbanan, kerja sama seorang ayah dan anak, serta doa yang terus dikenang hingga hari ini.

Ketika jutaan umat Islam datang ke Makkah untuk melaksanakan haji dan umrah, Ka’bah menjadi pusat perhatian. Jemaah mengelilinginya dalam thawaf, menghadapnya ketika shalat, dan memanjatkan doa di sekeliling Baitullah.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana kisah pembangunan Ka’bah dan siapa yang meninggikan fondasinya?

Inilah salah satu kisah yang membuat perjalanan ke Tanah Suci terasa lebih bermakna.

Ketika Nabi Ibrahim AS Meninggikan Fondasi Baitullah

Al-Qur’an mengabadikan momen ketika Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS, meninggikan fondasi Baitullah.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِـۧمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ ۖ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.’”
QS. Al-Baqarah: 127

Ayat ini memperlihatkan sesuatu yang sangat indah. Pekerjaan besar itu dilakukan bersama. Nabi Ibrahim AS meninggikan bangunan, sementara Nabi Ismail AS membantu ayahnya.

Dalam riwayat yang dikutip oleh Ibn Kathir, disebutkan bahwa Nabi Ismail AS membawa batu-batu untuk Nabi Ibrahim AS, hingga ketika bangunan semakin tinggi, Nabi Ibrahim AS berdiri di atas batu Maqam untuk melanjutkan pembangunan. Keduanya terus berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Ayah Membangun, Anak Membantu

Bayangkan suasananya.

Tidak ada alat berat. Tidak ada teknologi konstruksi seperti yang kita kenal hari ini. Yang ada adalah sebuah amanah besar, tenaga, batu-batu yang disusun satu demi satu, dan ketaatan kepada Allah.

Nabi Ibrahim AS membangun, Nabi Ismail AS membantu menyiapkan dan menyerahkan batu.

Dalam riwayat yang dinukil Ibn Kathir, disebutkan:

فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالْحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي

Artinya, Ismail membawa batu-batu sementara Ibrahim membangun.

Dari sini kita melihat bahwa sebuah amanah besar tidak selalu dikerjakan seorang diri. Ada kerja sama, kesabaran, dan peran masing-masing.

Yang Menarik: Setelah Beramal, Mereka Masih Berdoa

Ada satu bagian dari kisah ini yang sangat layak direnungkan.

Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sedang melakukan pekerjaan yang sangat mulia. Mereka sedang meninggikan fondasi Baitullah.

Namun, setelah beramal, mereka tidak merasa cukup dengan apa yang telah dilakukan.

Mereka justru berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami.”

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

Kadang manusia sibuk mengejar sebanyak-banyaknya amal, tetapi lupa meminta kepada Allah agar amal tersebut diterima.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa selesai melakukan kebaikan bukan berarti selesai. Ada doa yang perlu terus dipanjatkan agar amal itu diterima oleh Allah.

Dari Fondasi Ka’bah, Lahir Jejak Ibadah yang Mendunia

Ka’bah kemudian menjadi pusat ibadah bagi umat Islam. Allah juga memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyeru manusia agar menunaikan haji.

Dalam perjalanan sejarahnya, Makkah terus didatangi manusia dari berbagai penjuru dunia.

Hari ini, ketika kita melihat jutaan manusia melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, sebenarnya kita sedang menyaksikan sebuah tradisi ibadah yang memiliki jejak sejarah sangat panjang.

Di tempat yang sama, dahulu Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS meninggikan fondasi Baitullah.

Hari ini, umat Islam datang untuk memenuhi panggilan Allah.

Saat Melihat Ka’bah, Jangan Hanya Melihat Bangunannya

Ada alasan mengapa perjalanan haji dan umrah terasa begitu dalam bagi banyak orang.

Sebab yang dikunjungi bukan sekadar sebuah tempat.

Makkah menyimpan jejak para nabi, perjuangan, pengorbanan, doa, dan perjalanan panjang umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Ketika suatu hari Allah memberikan kesempatan untuk berdiri di hadapan Ka’bah, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan mengingat kisah ini.

  • Mengingat seorang ayah yang membangun.
  • Seorang anak yang membantu.
  • Sebuah amanah yang dikerjakan bersama.
  • Dua hamba yang tetap berdoa agar amal mereka diterima.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Semoga kelak ketika kaki kita menginjak Tanah Suci dan mata memandang Ka’bah secara langsung, kita tidak hanya melihat sebuah bangunan.

Kita juga mampu menghidupkan kembali kisah, memahami sejarah, dan mengambil ibrah dari setiap jejak yang ada di dalamnya.

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id